Chapter 2 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

9 Februari 2017




Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo] – Pada artikel ini saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang yang memiliki suatu bakat dari lahir. Meskipun tidak setinggi para pemilik bakat lainya, tapi mungkin saya bisa disebut freak untuk khalayak umum.

Semua karakter yang ada dalam cerita ini akan saya samarkan, terkecuali diri saya sendiri.

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter sebelumnya: Chapter 1 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter 2 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Mahkluk itu menatap saya dengan tajam, saya hanya bisa berdiri dan menjerit ketakutan, sampai ibu dan ka Dina menghampiri saya.

Ibu: “Ya Allah Kevin kenapa?” sambil memeluk saya.

Saya: “Itu bu di atas bu” jari saya sambil menunjuk ke atas.

Ibu: “Ada apa di atas? Tidak ada apa-apa” seru ibu sambil mengelus punggung saya.

Ka Dina: “Tidak ada apa-apa kok dek, mungkin ade salah lihat” seru ka Dina yang juga khawatir.

Saya: “Bener kok ka, itu di atas” lalu saya kembali beranikan diri untuk melihat ke atas, dan benar saja mahkluk itu sudah menghilang.

Ibu: “Kamu kebanyakan nonton film horor sih sama bapakmu, jadi ya kamu ngebayangin aneh-aneh” seru ibu.

Saya coba berfikir tenang dengan air mata yang terus mengalir dan napas yang begitu sesak, tak lama kemudian ibu membawakan segelas air putih.

Ibu: “Nih minum dulu Vin biar kamu enakan”

Saya: “I…ya bu, tapi Kevin malem ini tidak mau tidur sendiri, maunya sama ka Dina”

Ka Dina : “Iya nanti tidur sama kaka ya”

Ka Dina ini sangat dewasa bila dibandingkan dengan saya, walaupun umur kami hanya berbeda beberapa menit.

Ya.. Itulah pertama kali saya bisa melihat mahkluk secara jelas, bukan seperti bayangan atau kabut yang biasa saya lihat. Selanjutnya, kehidupan saya di sekolah pun mulai berubah, karena bangunan sekolah ini cukup tua dan masih banyak pohon beringin yang berdiri semakin menambah kesan horor pada sekolah ini. Tentunya tidak terkecuali penghuni di sana, bukan penghuni yang dapat terlihat oleh orang lain, melainkan mahkluk halus yang bersemayam di sana.

Keesokan harinya, saya berangkat ke sekolah bersama ka Dina. Saya dan ka Dina 1 sekolah dan sama-sama kelas 1 SD, namun kelas kami berbeda saya di kelas 1-A dan ka Dina 1-B. Ketika pelajaran dimulai saya meminta izin keluar untuk BAB di kamar mandi lantai 2. Sepanjang lorong sekolah memang sangat sepi, karna waktu itu semua murid dan guru sedang melakukan kegiatan mengajar. Ketika saya berjalan di lorong yang panjang itu saya selalu merasa diawasi, bahkan sampai ada suara memanggil saya “Kevin, sini main dulu”. Suara pria yang serak, lalu saya menengok ke arah suara itu berasal, namun nihil. Saya tidak dapat melihat siapapun, karena takut saya langsung berlari ke arah toilet, dan sampailah di toilet. Ketika saya ingin membuka celana tiba-tiba ada suara ketukan cermin.

“Tak..tak…tak” lantas saya mencoba mengintip dari dalam pintu toilet dan saya tidak melihat siapa pun.

“Palingan ada murid lain yang iseng” gumam saya.

Lalu ketika saya sedang menutup pintu toilet, secara tiba-tiba “BRAAKK ! ” ada yang membanting pintu toilet di sebelah.

“Jangan iseng dong tolong, saya jadi tidak bisa konsen nih, udah di ujung juga!” seru saya yang menganggap bahwa itu masih ke isengan murid lain.

Namun tiba-tiba LAGI.. ya… LAGI, saya merasakan hawa yang sangat tidak enak dan mencium bau melati yang sangat kuat, sampai bulu kuduk saya meinding. Saya merasakan ada yang melihat dari arah atas, lalu saya mengumpulkan keberanian untuk mencoba menengok ke atas namun akhirnya saya tidak cukup berani melakukan itu dan lebih memilih untuk memakai celana. Saya lari terbirit-birit bahkan pada saat itu belum sempat memakai gesper. Eesoknya saya sangat takut pergi ke sekolah karena sering diganggu oleh penghuni di sekolah, namun begitu saya harus memberanikan diri untuk tetap berangkat.

Masa-masa SD saya pun saya lewati dengan ketakutan. Tidak terasa saya sudah menginjak kelas 6 SD dan saya sudah mulai terbiasa dengan gangguan-gangguan itu.

Sampai suatu saat saya bertemu dengannya … (Bersambung)

Chapter Selanjutnya: Chapter 3 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Daftar chapter bisa Anda lihat pada halaman Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo]




2 komentar pada artikel "Chapter 2 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan MUHRID di Facebook Bagikan MUHRID di Google+