Chapter 3 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

26 Maret 2017

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo] – Pada artikel ini saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang yang memiliki suatu bakat dari lahir. Meskipun tidak setinggi para pemilik bakat lainya, tapi mungkin saya bisa disebut freak untuk khalayak umum.

Semua karakter yang ada dalam cerita ini akan saya samarkan, terkecuali diri saya sendiri.

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter sebelumnya: Chapter 2 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter 3 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Ada seorang anak pindahan dari sekolah lain, sebut saja namanya Riyan. Riyan pindah dari sekolah dasar yang masih berada di daerah jakarta, kalau saya tidak salah mengingat alasan pindah nya adalah karena rumahnya juga pindah ke daerah sini. Mungkin karena orang tuanya tidak mau pusing lantaran jarak sekolah lama dan rumah baru mereka cukup jauh, maka Riyan di pindahkan ke sekolah kami. Riyan berpenampilan seperti murid SD kelas 6 seperti biasanya, namun “Aneh” gumam saya dalam hati. Ya, karena baru kali ini saya merasakan aura/energi seseorang bisa sedahsyat ini, “Apa dia sepertiku?”. Ryan tidak duduk di sebelah saya, dia duduk di sebelah teman saya yang lain.

Oh ya, hubungan saya dan teman-teman saya di kelas sangat baik semenjak kejadian kelas 1 itu, karena saya mencoba menutupi semua dan tidak mau di cap anak sebagagi aneh. Bahkan beberapa teman saya yang pernah sesekali saya ajak berbicara tentang hal ghaib jadi sangat penasaran mendengar cerita saya.

. . .

Saat jam istirahat, saya tidak tahu mengapa tatapan saya langsung tertuju terhadap Riyan yang sedang dikerumuni oleh teman-teman sekelas, terutama Wanita. Ya, karena memang dia cukup tampan. Tidak lama berselang setelah kerumunan itu pergi saya coba berbicara kepadanya.

Saya: “Hai Riyan, salam kenal ya” sambil menyodorkan salam kepadanya.

Riyan: “Oh hai juga, boleh tahu nama kamu?” lalu riyan juga membalas salaman saya.

Saya: “Panggil aja gue Kevin. Oh ya, rumah lu dimana ya?

Riyan: “Rumah gue di Jalan ****”

Saya: “Wah deket tuh, gue juga tinggal di dekat situ, kalau nanti pulang bareng mau ga?”

Lalu Riyan mengiyakan ajakan saya.

“Memang benar, ada yang aneh dengan anak itu, energinya terlalu besar” gumam saya dalam hati yang tidak dapat fokus memperhatikan kelas karena selalu terpikirkan hal itu.

“Krringggg… Kriiingggg” tiba lah jam pulang sekolah. Saya lalu mengajak Riyan pulang bareng dengan berjalan kaki, karena jarak ke rumah kami itu tidak terlalu jauh. Hari itu ka Dina tidak bisa ikut pulang bersama kami karena dia harus mengikuti kegiatan Pramuka di sekolah.

Saya: “Yan, boleh tanya sesuatu yang agak aneh ga?”

Riyan: “Ya tanya aja Vin, gue tau kok lu ngajak pulang  bareng karena lu ngerasa ada yang aneh sama gue kan?”

Saya langsung bertaya-tanya dalam batin, bagaimana dia tau? Bagaimana dia mengetahui kalau saya memang punya maksud lain. Lalu saya kembali bertanya.

Saya: “Eh.. Ga juga ko Yan, apa lu pernah ngeliat mahkluk lain selain kita? Seperti hantu?”
Riyan: “Hahaha, ya gue bisa melihat nya dengan jelas, dan juga bisa berbicara dengan meraka.”

Saya langsung lemas. Ya, lemas karena Kevin berani mengajak mereka berbicara. Kalau saya, saya lebih baik pura-pura tidak melihat atau menghiraukan mereka.

Saya: “Lu serius yan? Apa lu sama kaya gue?”
Riyan: “Gue berbeda dari lu Vin, gue ga punya bakat dari lahir, tapi karena gue menginginkannya”

Saya tidak terlalu hapal detail pembicaraan kami waktu itu. Seingat saya, Riyan dimasukkan ke pengajian atau tepatnya perguruan oleh sang ayah sejak kelas 2 SD, karena ayahnya juga salah satu murid di pengajian itu. Tapi berbeda dengan dukun dan ilmu hitam lainnya yang saya rasakan, waktu itu saya melihat energi dari Riyan memang sangat kuat, tapi saya tidak takut, saya malah nyaman ketika berbicara panjang lebar dengannya, seolah saya merasa aman kalau saya di dekatnya.

Pertemanan kami semenjak itu mulai makin akrab. Saya telah lulus SD bersama ka Dina dan tentunya juga Riyan, dan saya memutuskan untuk masuk ke SMP negeri di Jakarta, yang mana ka Dina dan Riyan juga ikut ke sana.

(Bersambung)

Chapter Selanjutnya: Chapter 4 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan (Coming soon)

Daftar chapter bisa Anda lihat pada halaman Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo]

1 komentar pada artikel "Chapter 3 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan MUHRID di Facebook Bagikan MUHRID di Google+