Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo]

8 Februari 2017




Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo] – Pada artikel ini saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang yang memiliki suatu bakat dari lahir. Meskipun tidak setinggi para pemilik bakat lainya, tapi mungkin saya bisa disebut freak untuk khalayak umum.

Semua karakter yang ada dalam cerita ini akan saya samarkan, terkecuali diri saya sendiri.

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter 1 – Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Cerita dimulai pada saat saya berusia 7 tahun. Saya memiki kelebihan yang tak di miliki anak lain, ya.. Saya dapat melihat mahkluk yang tak kasat mata yang kalian menyebutnya dengan mahkluk halus. Saya sering melihat berbagai penampakan, ya walaupun hanya samar-samar dan terlihat seperti kabut/bayangan, mungkin karena waktu itu saya masih masih kecil.

Perbedaan saya dengan anak Indigo lainnya adalah sampai detik ini saya hanya bisa melihat mereka, merasakan kehadiran mereka, dan melihat aura seseorang. Tidak seperti anak indigo lain yang bisa menerawang bahkan bisa melihat masa depan.

Saya tinggal di sebuah kota besar yaitu Jakarta, dan di rumah yang dibangun sendiri oleh ayah. Saya memiliki kakak perempuan (Ka Dina), adik perempuan, dan tentunya ayah dan ibu saya. Perbedaan umur saya dengan kakak hanya beberapa menit. Kok bisa? Ya.. Saya lahir kembar dengan kakak perempuan saya. Kalau dengan adik saya, saya terpaut 7 tahun.

Waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SD, begitu pun dengan kaka saya dan anehnya ka Dina tidak memiliki bakat seperti saya. Saya juga tidak tahu apa alasannya, mungkin karena gusti Allah sudah menghendakinya.

Suatu hari saya sedang bermain gamebot. Saat sedang asik-asiknya, ibu berteriak memanggil saya dan ka Dina.

Kevinn.. Dinaa… Jangan lupa sholat mahgrib” teriak ibu dari lantai bawah. Saya dan ka Dina tinggal di lantai atas tapi berbeda kamar.

Iya mah…” sontak saya menyaut.

Sekedar informasi waktu itu saya anaknya SUPERR MALAS kalau disuruh sholat, jadi saat itu saya hanya berpura-pura mengiyakan. Saya bukan anak bandel tapi niat saya untuk sholat itu belum ada. Berbeda dengan saya, ka Dina sangat rajin menunaikan ibadah. Beliau sering mengomeli saya, tapi tidak pernah mengadu kepada ibu/bapak.

Waktu itu jam 06.10 saya turun ke lantai bawah untuk bermain dengan adik saya. Adik saya waktu itu masih berusia 4-6 bulan. Ketika saya turun ibu saya memanggil saya.

Kevin udah sholat?” tanya ibu.
Udah dong mah” dengan polosnya berbohong, lalu saya pergi menghampiri Rina, itu nama adik saya. Saat saya tiba di kamar ibu, tiba-tiba adik saya menangis kencang sekencang-kencangnya.

Saya lantas bingung, “emang muka saya kaya setan?“.

Kemudian tidak lama ibu menghampiri saya.

Kevin, adiknya jangan di buat nangis” ucap ibu dengan nada mengomel.

Engga kok mah, sumpah tadi pas Kevin dateng tiba-tiba Rina nangis” jawab saya dengan mimik memelas.

Lalu ibu menggendong Rina yang sedang menangis dan membawanya ke luar kamar. Entah kenapa saat itu tiba-tiba perasaan saya langsung tidak enak, bulu kuduk merinding hebat, dan seolah ada perintah untuk jangan menengok ke atas, namun saya beranikan diri untuk menengok ke atas dan … “ARRRGGGHHH…!!!” teriak saya sambil menangis.

Saya melihat seorang wanita berwajah sangat pucat dengan mulut menganga, dan seluruh mata nya putih, rambutnya membentang dari ujung langit-langit ke ujung langit-langit yang lain. Tangan dan kakinya menempel ke dinding atas seperti cicak, ya seperti cicak!

Sontak saya menangis sekencang-kencangnya, kaki saya lemas. Seolah dia menatap tajam ke arah saya.

(Bersambung)

Kelanjutan Cerita Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan

Chapter 2 – Takdir yang Tidak Bisa  Ku Lawan

Chapter 3 – Coming soon

Chapter 4 – Coming soon

.

.

Chapter 78 – Coming soon

Catatan: Artikel ini bersumber dari thread Kaskus Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan oleh agan maniakzgeek/theperegrinefal dan telah mendapat persetujuan dari penulis yang bersangkutan untuk dibagikan di Sigmbi.org.




2 komentar pada artikel "Takdir yang Tidak Bisa Ku Lawan [Kisah Nyata Seorang Indigo]"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan MUHRID di Facebook Bagikan MUHRID di Google+