Apa Pengertian Qurban? Mengapa Harus Mengorbankan Binatang?

23 Agustus 2017

Secara leksikalnya, pengertian qurban adalah mendekati atau dekat. Bukan potong kambing? Bukan. Hampir semuanya tahu kalau Hari Qurban atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah. Ini hanya berlaku untuk umat muslim di seluruh dunia. Orang-orang akan berbondong-bondong memenuhi masjid. Begitu salat Ied sudah selesai, binatang yang memenuhi syarat pun ramai-ramai dipotong.

Sapi Qurban

Sapi Qurban

Potong kambing ketika tiba Hari Raya Idul Adha tidak sama dengan potong kambing demi menuntaskan niat bikin satai. Binatang yang dikorbankan memiliki makna sebagai bentuk kecintaan kita pada Allah, sesuai yang Dia perintahkan pada Nabi Ibrahim a.s. Pada masanya, Allah menyuruh beliau membunuh anak sendiri; Nabi Isma’il a.s, lewat mimpi yang terasa begitu nyata.

Nabi Ibrahim tetap patuh, meskipun permintaan Allah tergolong berat baginya. Sementara Nabi Isma’il selalu ikhlas kalau bersinggungan dengan ketetapan Allah. Keduanya diuji dengan hal yang sama. Beruntung, keduanya juga lolos uji. Berdasarkan konteks, Allah tengah menguji hati keduanya. Apa ujiannya? Dia ingin tahu apakah Ibrahim a.s lebih mencintai Allah atau anaknya.

Begitulah yang terjadi pada masa kini. Qurban dengan binatang bukan ajang pamer siapa yang paling kaya. Semua telah terkondisikan berdasarkan makna kontekstual terhadap perintah yang dijalankan Allah pada Nabi Ibrahim a.s dalam ayat Alqur’an. Ayat tentang qurban tidaklah sedikit. Ini salah satunya, dalam surah Al-kautsar ayat 1-2:

“Sesungguhnya Kami sudah memberi karunia yang sangat banyak padamu, maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.”

Sebagai umat muslim, kita wajib mengimani sekaligus menerapkan perintah Allah yang terkandung dalam Kitab Suci Al-qur’an. Banyak manfaat dari qurban. Pertama, bisa mendekatkan diri pada Allah. Kedua, sebagai sarana penyatuan umat muslim. Ketiga, memberi kesempatan untuk orang miskin yang di bawahnya bisa makan makanan enak. Keempat, sebagai sarana muhasabah diri.

Berdasarkan peristiwa qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s, kita bisa menyimpulkan satu hal. Bukankah keduanya ikhlas melakukannya? Ada satu syarat untuk bisa dikatakan ikhlas, yakni, tawakkal. Tanpa unsur tawakkal, keikhlasan hanya semu. Orang qurban hanya demi eksis. Sementara orang lain hanya tertuju pada pembagian daging, bukan hal esensial dari Hari Raya Idul Adha itu sendiri.

Jadi, pengertian qurban dalam Hari Raya Idul Adha secara keseluruhan adalah bicara tentang keikhlasan hati. Sejauh mana diri kita dekat dengan Allah dan manusia. Sejauh mana kita selama ini bersikap baik pada alam dan lingkungan, termasuk binatang-binatang. Sejauh mana kita tidak terbujuk rayu dari syetan-syetan terkutuk. Sejauh itu pula kita bisa memaknai Hari Raya Idul Adha secara sempurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan MUHRID di Facebook Bagikan MUHRID di Google+